Jumat, 10 April 2015

UN BERBASIS KOMPUTER ?



Ujian Nasional (UN) atau sering disebut dengan Ujian Akhir Nasional (UAN) merupakan salah satu evaluasi belajar yang diterapkan di Indonesia. Ujian ini dilakukan ketika siswa berada di kelas akhir suatu jenjang pendidikan, yakni kelas enam pada SD/sederajat, IX pada SMP/sederajat, dan XII pada SMA/sederajat. Sehingga Ujian Nasional sering disebut sebagai penentu kelulusan.

Seiring waktu, pemerintah terus mengembangkan pelaksanaan Ujian Nasional ini. Seperti halnya jumlah paket soal yang berubah dari waktu ke waktu. Bisa diakatakan, jumlah paket soal yang digunakan dalam UN ini merupakan pengembangan yang paling dirasakan oleh pihak sekolah maupun masyarakat umum. Pada awalnya paket soal yang digunakan yaitu dua paket. Kemudian untuk angkatan 2012/2013 paket soal yang digunakan yaitu lima paket. Lalu bertambah lagi menjadi 20 paket soal untuk angkatan 2013/2014 dan 2014/2015. Sedangkan sekarang  untuk angkatan 2015/2016, paket soal yang digunakan berjumlah lima paket soal.

 
Tidak hanya itu, pemerintah dalam mengembangkan UN juga merembet pada sarana dan prasarana yang digunakan dalam pelaksanaan UN. Seperti halnya wacana pemerintah yang sedang gencar-gencarnya diberitakan saat ini. Berita yang membuat geger berbagai pihak ini, menyangkut rencana pemerintah yang akan melaksanakan UN berbasis komputer. Tidak semua sekolah di Indonesia melaksanakan UN berbasis komputer. Dalam www.detik.com, disebutkan bahwa baru sebanyak 585 sekolah yang akan diuji coba untuk melaksanakan UN berbasis komputer.
Jika ditilik lebih mendalam, sebenarnya UN berbasis komputer ini lebih efektif dan efisien dibanding dengan UN manual. Akan tetapi, melihat kondisi pendidikan Indonesia saat ini, UN berbasis komputer bagaikan “Menguras Air Laut” yang artinya tidak mungkin dilakukan. Mengapa dikatakan demikian ? Bayangkan saja, baru 30% dari 300 ribu sekolah di Indonesia yang memiliki akses jaringan internet. Sedangkan yang lebih parah lagi, 17 ribu sekolah belum mendapatkan listrik ( www.detik.com ). Masa’ iya mau mengadakan UN berbasis komputer sedangkan listrikpun tidak ada.

Mungkin saja, hal ini bisa diatasi dengan solusi memakai solar cell ( yakni listrik bertenaga matahari ) seperti yang dipaparkan oleh Mendikbud, Anis Baswedan ( www.detik.com ). Namun demikian, muncul pertanyaan “Apakah mereka mampu menggunakan komputer, sedangkan gurunya pun belum tentu bisa menggunakannya ?”. Jadi seharusnya pemerintah tidak serta merta langsung mengadakan UN berbasis komputer saat ini.
Memang benar, pemerintah saat ini belum melaksanakan UN berbasis komputer di semua sekolah di Indonesia. Akan tetapi, perlu juga dipikirkan bagaimana rencana ke depannya. Jika yang melaksanakan UN berbasis komputer hanya sekolah-sekolah di kota, lalu bagaimana yang di pelosok ? Dengan demikian, bukankah telah terjadi diskriminasi ?
Maka ada baiknya jika pemerintah memikirkan matang-matang semua kebijakannya terutama dalam masalah pendidikan. Karena, hal ini menyangkut generasi penerus bangsa. Tidak seharusnya pemerintah terlalu dini memikirkan UN berbasis komputer. Tetapi pikirkanlah terlebih dahulu nasib sekolah-sekolah di pelosok  yang bahkan listrik pun tak ada, apalagi mengenal teknologi modern saat ini.

Bukan berarti, saya sebagai penulis tidak setuju dengan UN berbasis komputer ini. Akan tetapi, akan lebih baik jika pemerintah mengurus terlebih dahulu sekolah-sekolah yang selama ini tak pernah tersentuh tangan pemerintah, hingga mereka ( sekolah-sekolah pelosok ) mampu mengikuti perkembangan teknologi. Apabila semua sekolah telah mampu dan siap baik sumber daya manusia maupun sarana dan prasarana, maka barulah UN berbasis kompter ini PANTAS dilaksanakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar