BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filsafat
merupakan induk dari berbagai macam ilmu sehingga disebut sebagai “Mother of
Knowledge”. Oleh sebab itu filsafat memiliki berbagai macam cabang, diantaranya
yaitu filsafat ilmu, filsafat islam, filsafat pancasila, dan filsafat
pendidikan. Setiap cabang-cabang filsafat tersebut memiliki aliran-aliran
tersendiri. Seperti filsafat pendidikan khususnya filsafat pendidikan islam
memiliki aliran-aliran diantaranya, aliran filsafat Illuminasionistik dan
aliran filsafat Peripatetik.
Jika dipelajari secara mendalam ternyata pancasila
memiliki peran dalam pengembangan pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan
islam. Oleh karena itu, munculah filsafat pancasila yang berguna untuk
mengetahui nilai-nilai yang ada dalam filsafat pancasila. Nilai-nilai inilah
yang nantinya akan digunakan dalam pengebangan pendidikan.
Dalam
makalah ini penulis akan membahas tentang aliran filsafat Illuminasionistik dan
aliran filsafat Peripatetik. Selain itu penulis juga akan membahas tentang aplikasi filsafat pancasila di lembaga
pendidikan islam.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa yang
dimaksud dengan aliran filsafat Illuminasionistik dan aliran Peripatetik ?
2.
Bagaimana aplikasi filsafat pancasila dalam lembaga
pendidikan islam ?
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Untuk mengetahui
pengertian aliran filsafat Illuminasionistik dan aliran filsafat Peripatetik.
2.
Untuk mengetahui aplikasi filsafat pancasila dalam lembaga pendidikan
islam.
BAB
II
PEMBAHASAN
MASALAH
A. Aliran filsafat Iluminasionistik
dan Aliran filsafat Peripatetik
Aliran
filsafat Iluminasionistik adalah aliran yang mengikuti gagasan dan karya-karya
Plato. Syekh Syihabudin Suhrawardi atau yang biasa disebut Sahrawardi yang
mendapat julukan Syaikh Al-Isyraq adalah filosofis muslim yang mempelopori
filsafat iluminasionistik, beliau seorang cendekiawan muslim abad ke-6 hijriah
dengan bukunya yang terkenal yaitu Al-hikmah Israqiyah (filsafat iluminasi ).Oleh
karenanya, aliran filsafat iluminasionistik disebut juga al-hikmah al-Isyraqi. Bisa dikatakan bahwa penganut aliran
Iluminasionistik adalah pengikut plato.
Iluminasionistik
tidak
hanya terfokus pada nalar intelektul yang berpusat pada rasional murni melainkan
juga berporos pada penalaran intelektual intuitif. Pemikiran iluminasionistik tidak
bisa dihimpun oleh pemikiran dan penalaran,s tapi yang lebih berperan besar di
dalamnya adalah intuisi intelektual, kontemplasi, dan praktek-praktek asketik.
Metode
iluminasi yaitu dengan upaya mengadakan kajian terhadap berbagai permasalahan
filsafat khususnya filsafat tinggi (Al-hikah Al-muta’aliyah) atau filsafat
ketuhanan, tidak merasa cukup hanya dengan menggunakan argumentasi dan
penalaran. Namun diperlukan penyucian hati, perjuangan melawan hawa nafsu dalam
upaya menyingkap berbagai hakikat. Iluminasionistik bertumpuh pada metode
argumentasi rasional, metode demonstrasi rasional dan metode penyucian jiwa dan
perjuangan melawan hawa nafsu.
Istilah peripatetisme berasal dari bahasa Yunani. Kata
peripatetisme merupakan derivasi kata peripatein (berkeliling) dan peripatos
(beranda), dan isme yang berarti aliran. Dalam khazanah Yunani, kata ini
mengacu kepada suatu serambi gedung olahraga di Athena yang digunakan untuk
mengajarkan filsafat dengan berjalan-jalan dan mengelilingi murid-murid. Kata
sifat dari peripatetisme adalah peripatetik. Peripatetisme juga berarti “ia
yang berjalan berputar atau mengelilingi”. Arti ini merujuk pada kebiasaan
Aristoteles yang selalu berjalan-jalan mengelilingi muridnya, ketika ia
mengajarkan filsafat. Dalam bahasa Arab, kata peripatetik dikenal dengan
istilah masysya’i, berjalan berputar.Sedangkan alirannya disebut masysya’iyah.
Aliran peripatetik adalah aliran yang
epistemologinya berlandaskan pada metode pemikiran logis Aristotelian
yang bersifat diskursif demonstrasional. Dimana aliran ini adalah aliran yang
mengikuti gagasan gagasan Aristoteles. Penganut aliran Peripatetik bisa disebut
sebagai pengikut Aristoteles. Penerus pemikiran aliran ini dalam filsafat islam
adalah Ar-Arais Ibn Sina,Al-Kindi, Ibn Rusyd, Al-Farabi dan masih banyak lagi
filosof muslim yang menganut aliran ini.
Cikal bakal penggunaan istilah peripatik pada awalnya
mengacu kepada metode yang dipakai oleh Aristoteles dalam mengajarkan filsafat
kepada murid-muridnya. Adapun metode yang digunakan dalam aliran filsafat
Peripatetik adalah Metode Silogisme (qiyas), Metode Argumentasi Rasional, dan
Metode Demonstrasi Rasional.
Perbedaan prinsipal diantara iluminasionistik dengan
peripatetik adalah illuminasionis menggap deduksi dan pemikiran rasional tidak
cukup untuk studi filsafat, terutama yang menyangkut kebijakan Ilahiah (hikamh
ilahiyyah), jalan hati, asketisme, penyucian jiwa harus dijalani jika seorang
ingin menyingkapkan realitas batin. Sementara peripatetik hanya menyandarkan
diri pada deduksi.
B. Filsafat Pancasila
Filsafat Pancasila adalah refleksi
kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya
bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya yang mendasar
dan menyeluruh. Pancasila dikatakan sebagai filsafat, karena Pancasila merupakan hasil
perenungan jiwa yang mendalam yang dilakukan oleh the founding father
kita, yang dituangkan dalam suatu sistem (Ruslan Abdul Gani). Filsafat Pancasila memberi
pengetahuan dan pengertian ilmiah yaitu tentang hakikat dari Pancasila
(Notonagoro).
Kesatuan sila-sila pancasila pada hakikatnya bukanlah hanya merupakan
kesatuan yang bersifat formal logis saja namun juga meliputi kesatuan dasar
ontologis, dasar epistemologis serta dasar aksiologis dari sila-sila pancasila.
Ontologi (Realita)
Dasar ontologis
pancasila pada hakikatnya adalah manusia yang memiliki hakikat mutlak monopluralis
yaitu hakikat yang memiliki unsure-unsur pokok yang terdiri dari jiwa (rohani)
dan raga (jasmani). Oleh karena itu hakikat dasar ini juga disebut sebagai
dasar antropologis. Subjek pendukung pokok sila-sila pancasila adalah
manusia.hal ini dapat dijelaskan bahwa yang berketuhanan yang Maha Esa,yang
berkemanusian yang adi dan beradab, yang persatuan, yang berkerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam pemusyarawatn/perwakilan serta
berkeadilan social pada hakikatnya adalah manusia (Notonagoro,1975:23 ). Adapun
pendukung pokok negara adalah rakyat dan unsur rakyat adalah manusia itu
sendiri, sehingga tepatlah jikalau dalam filsafat pancasila bahwa hakikat dasar
antropologis sila-sila pancasila adalah manusia.
Epistemologi
(Pengetahuan)
Dasar
epistemologis pancasila pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dengan dasar
ontologisnya. Pancasila sebagai suatu ideologi bersumber pada nilai-nilai
dasarnya yaitu filsafat pancasila (soeryanto, 1991: 50). Dalam epistemologi
terdapat tiga persoalan yang mendasar, yaitu pertama, tentang sumber
pengetahuan manusia, kedua, tentang teori kebenaran pengetahuan manusia,
ketiga, tentang watak pengetahuan manusia (Titus. 1984: 20).
Pancasila
sebagai suatu objek pengetahuan pada ahkikatnya meliputi masalah suber
pengetahuan pancasila dan susunan pengetahuan pancasila. Pancasila sebagai
suatu sistem pengetahuan, sebagai suatu sistem pengetahuan maka pancasila
memeliki susunan yang bersifat sila-sila pancasila maupun isi arti sila-sila
pancasila.
Aksiologi (Nilai)
Sila-sila
sebagi suatu sistem filsafat juga memiliki satu kesatuan dasar aksiologisnya
sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila pada hakikatnya juga merupakan
suatu kesatuan. Pada hakikatnya segala sesuatu itu bernilai. Hanya
nilai macam apa saja yang ada serta bagaimana hubungan nilai tersebut dengan
manusia. Banyak pandangan tentang nilai terutama dalam menggolong-golongkan
nilai dan penggolongan tersebut amat beraneka ragam.
C. Aplikasi
filsafat Pancasila dalam lembaga pendidikan
Filsafat Pancasila yang memandang hakikat manusia
sebagai monopluralis akan
tercermin dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan yang subyeknya adalah juga
manusia. Adapun unsur-unsur manusia
monopluralis adalah Kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga, Kodrat
makhluk individu dan makhluk sosial, Kodrat
sebagai makhluk pribadi dan makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
Pendidikan
harus meliputi aspek jiwa (akal, rasa, kehendak), aspek raga (jasmani), aspek
individu, aspek mahluk sosial, aspek pribadi dan juga aspek kehidupan
ketuhanannya. Pengembangan seluruh aspek manusia harus berlandaskan nilai-nilai yang
terkandung dalam sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem. Contoh Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
pendidikan adalah dalam rangka mengolah kekayaan alam yang disediakakn Tuhan
Yang maha Esa (sila ke-1), tujuan esensialnya adalah untuk kesejahteraan umat
manusia, pengembangan iptek haruslah hasil budaya manusia yang beradab dan
bermoral (sila ke-2), pengembangan iptek sejak dini diarahkan dapat
mengembangkan rasa nasionalisme (sila ke-3), siswa sebagai ilmuwan perlu
diberikan kebebasan mengembangkan iptek sekaligus menghargai kebebasan orang
lan (silake-4), pengembangan iptek harus menjaga keseimbangan kehidupan dirinya
sendiri, dengan orang lain, dirinya dengan Tuhannya, dirinya dengan masyarakat,
dan alam sekitar (sila ke-5).
Aplikasi
filsafat pancasila dalam lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan islam
sangat dipelukan, karena aplikasi falsafah Pancasila yang terjabarkan dalam
sila-sila Pancasila secara tepat dan integratif di dalam dunia pendidikan dapat
mengembangkan kompetensi manusia secara utuh berlandaskan nilai-nilai yang
berasal dari akar budaya bangsa Indonesia sendiri.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Aliran
filsafat Iluminasionistik adalah aliran yang mengikuti gagasan dan karya-karya
Plato sedangkan aliran filsafat Peripatetik adalah
aliran yang mengikuti gagasan dan karya-karya Aristoteles. Sehingga penganut
aliran filsafat Iluminasionistik bisa disebut sebagai pengikut plato. Adapun
penganut aliran filsafat Peripatetik bisa disebut sebagai pengikut Aristoteles.
Filsafat Pancasila adalah refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila
sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk
mendapatkan pokok-pokok pengertiannya yang mendasar dan menyeluruh. Dari filsafat pancasila akan didapatkan
nilai-nilai yang bisa digunakan dalam pengembangan pendidikan di lembaga
pendidikan khususnya lembaga pendidikan islam. Jadi, aplikasi falsafah Pancasila yang terjabarkan dalam sila-sila Pancasila
secara tepat dan integratif di dalam dunia pendidikan dapat mengembangkan
kompetensi manusia secara utuh berlandaskan nilai-nilai yang berasal dari akar
budaya bangsa Indonesia sendiri.
SUMBER
Tidak ada komentar:
Posting Komentar