Selasa, 27 September 2016

Makalah Filsafat Pendidikan Islam



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Filsafat merupakan induk dari berbagai macam ilmu sehingga disebut sebagai “Mother of Knowledge”. Oleh sebab itu filsafat memiliki berbagai macam cabang, diantaranya yaitu filsafat ilmu, filsafat islam, filsafat pancasila, dan filsafat pendidikan. Setiap cabang-cabang filsafat tersebut memiliki aliran-aliran tersendiri. Seperti filsafat pendidikan khususnya filsafat pendidikan islam memiliki aliran-aliran diantaranya, aliran filsafat Illuminasionistik dan aliran filsafat Peripatetik.

Jika dipelajari secara mendalam ternyata pancasila memiliki peran dalam pengembangan pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan islam. Oleh karena itu, munculah filsafat pancasila yang berguna untuk mengetahui nilai-nilai yang ada dalam filsafat pancasila. Nilai-nilai inilah yang nantinya akan digunakan dalam pengebangan pendidikan.
Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang aliran filsafat Illuminasionistik dan aliran filsafat Peripatetik. Selain itu penulis juga akan membahas tentang aplikasi filsafat pancasila di lembaga pendidikan islam.





B.  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan aliran filsafat Illuminasionistik dan aliran Peripatetik ?
2.      Bagaimana aplikasi filsafat pancasila dalam lembaga pendidikan islam ?
C.  Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian aliran filsafat Illuminasionistik dan aliran filsafat Peripatetik.
2.      Untuk mengetahui aplikasi filsafat pancasila dalam lembaga pendidikan islam.


BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

A.  Aliran filsafat Iluminasionistik dan Aliran filsafat Peripatetik
Aliran filsafat Iluminasionistik adalah aliran yang mengikuti gagasan dan karya-karya Plato. Syekh Syihabudin Suhrawardi atau yang biasa disebut Sahrawardi yang mendapat julukan Syaikh Al-Isyraq adalah filosofis muslim yang mempelopori filsafat iluminasionistik, beliau seorang cendekiawan muslim abad ke-6 hijriah dengan bukunya yang terkenal yaitu Al-hikmah Israqiyah (filsafat iluminasi ).Oleh karenanya, aliran filsafat iluminasionistik disebut juga al-hikmah al-Isyraqi. Bisa dikatakan bahwa penganut aliran Iluminasionistik adalah pengikut plato.
Iluminasionistik tidak hanya terfokus pada nalar intelektul yang berpusat pada rasional murni melainkan juga berporos pada penalaran intelektual intuitif. Pemikiran iluminasionistik tidak bisa dihimpun oleh pemikiran dan penalaran,s tapi yang lebih berperan besar di dalamnya adalah intuisi intelektual, kontemplasi, dan praktek-praktek asketik.
Metode iluminasi yaitu dengan upaya mengadakan kajian terhadap berbagai permasalahan filsafat khususnya filsafat tinggi (Al-hikah Al-muta’aliyah) atau filsafat ketuhanan, tidak merasa cukup hanya dengan menggunakan argumentasi dan penalaran. Namun diperlukan penyucian hati, perjuangan melawan hawa nafsu dalam upaya menyingkap berbagai hakikat. Iluminasionistik bertumpuh pada metode argumentasi rasional, metode demonstrasi rasional dan metode penyucian jiwa dan perjuangan melawan hawa nafsu.
Istilah peripatetisme berasal dari bahasa Yunani. Kata peripatetisme merupakan derivasi kata peripatein (berkeliling) dan peripatos (beranda), dan isme yang berarti aliran. Dalam khazanah Yunani, kata ini mengacu kepada suatu serambi gedung olahraga di Athena yang digunakan untuk mengajarkan filsafat dengan berjalan-jalan dan mengelilingi murid-murid. Kata sifat dari peripatetisme adalah peripatetik. Peripatetisme juga berarti “ia yang berjalan berputar atau mengelilingi”. Arti ini merujuk pada kebiasaan Aristoteles yang selalu berjalan-jalan mengelilingi muridnya, ketika ia mengajarkan filsafat.  Dalam bahasa Arab, kata peripatetik dikenal dengan istilah masysya’i, berjalan berputar.Sedangkan alirannya disebut masysya’iyah.
Aliran peripatetik adalah aliran yang  epistemologinya berlandaskan pada metode pemikiran logis Aristotelian yang bersifat diskursif demonstrasional. Dimana aliran ini adalah aliran yang mengikuti gagasan gagasan Aristoteles. Penganut aliran Peripatetik bisa disebut sebagai pengikut Aristoteles. Penerus pemikiran aliran ini dalam filsafat islam adalah Ar-Arais Ibn Sina,Al-Kindi, Ibn Rusyd, Al-Farabi dan masih banyak lagi filosof muslim yang menganut aliran ini.
Cikal bakal penggunaan istilah peripatik pada awalnya mengacu kepada metode yang dipakai oleh Aristoteles dalam mengajarkan filsafat kepada murid-muridnya. Adapun metode yang digunakan dalam aliran filsafat Peripatetik adalah Metode Silogisme (qiyas), Metode Argumentasi Rasional, dan Metode Demonstrasi Rasional.
Perbedaan prinsipal diantara iluminasionistik dengan peripatetik adalah illuminasionis menggap deduksi dan pemikiran rasional tidak cukup untuk studi filsafat, terutama yang menyangkut kebijakan Ilahiah (hikamh ilahiyyah), jalan hati, asketisme, penyucian jiwa harus dijalani jika seorang ingin menyingkapkan realitas batin. Sementara peripatetik hanya menyandarkan diri pada deduksi.
B.  Filsafat Pancasila
Filsafat Pancasila adalah refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya yang mendasar dan menyeluruh. Pancasila dikatakan sebagai filsafat, karena Pancasila merupakan hasil perenungan jiwa yang mendalam yang dilakukan oleh the founding father kita, yang dituangkan dalam suatu sistem (Ruslan Abdul Gani). Filsafat Pancasila memberi pengetahuan dan pengertian ilmiah yaitu tentang hakikat dari Pancasila (Notonagoro).
Kesatuan sila-sila pancasila pada hakikatnya bukanlah hanya merupakan kesatuan yang bersifat formal logis saja namun juga meliputi kesatuan dasar ontologis, dasar epistemologis serta dasar aksiologis dari sila-sila pancasila.
Ontologi (Realita)
Dasar ontologis pancasila pada hakikatnya adalah manusia yang memiliki hakikat mutlak monopluralis yaitu hakikat yang memiliki unsure-unsur pokok yang terdiri dari jiwa (rohani) dan raga (jasmani). Oleh karena itu hakikat dasar ini juga disebut sebagai dasar antropologis. Subjek pendukung pokok sila-sila pancasila adalah manusia.hal ini dapat dijelaskan bahwa yang berketuhanan yang Maha Esa,yang berkemanusian yang adi dan beradab, yang persatuan, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam pemusyarawatn/perwakilan serta berkeadilan social pada hakikatnya adalah manusia (Notonagoro,1975:23 ). Adapun pendukung pokok negara adalah rakyat dan unsur rakyat adalah manusia itu sendiri, sehingga tepatlah jikalau dalam filsafat pancasila bahwa hakikat dasar antropologis sila-sila pancasila adalah manusia.
Epistemologi (Pengetahuan)
Dasar epistemologis pancasila pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan dengan dasar ontologisnya. Pancasila sebagai suatu ideologi bersumber pada nilai-nilai dasarnya yaitu filsafat pancasila (soeryanto, 1991: 50). Dalam epistemologi terdapat tiga persoalan yang mendasar, yaitu pertama, tentang sumber pengetahuan manusia, kedua, tentang teori kebenaran pengetahuan manusia, ketiga, tentang watak pengetahuan manusia (Titus. 1984: 20).
Pancasila sebagai suatu objek pengetahuan pada ahkikatnya meliputi masalah suber pengetahuan pancasila dan susunan pengetahuan pancasila. Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan, sebagai suatu sistem pengetahuan maka pancasila memeliki susunan yang bersifat sila-sila pancasila maupun isi arti sila-sila pancasila.


Aksiologi (Nilai)
Sila-sila sebagi suatu sistem filsafat juga memiliki satu kesatuan dasar aksiologisnya sehingga nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila pada hakikatnya juga merupakan suatu kesatuan. Pada hakikatnya segala sesuatu itu bernilai. Hanya nilai macam apa saja yang ada serta bagaimana hubungan nilai tersebut dengan manusia. Banyak pandangan tentang nilai terutama dalam menggolong-golongkan nilai dan penggolongan tersebut amat beraneka ragam.
C.  Aplikasi filsafat Pancasila dalam lembaga pendidikan
Filsafat Pancasila yang memandang hakikat manusia sebagai monopluralis akan tercermin dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan yang subyeknya adalah juga manusia. Adapun unsur-unsur manusia monopluralis adalah Kodrat manusia terdiri atas jiwa dan raga, Kodrat makhluk individu dan makhluk sosial, Kodrat sebagai makhluk pribadi dan makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
Pendidikan harus meliputi aspek jiwa (akal, rasa, kehendak), aspek raga (jasmani), aspek individu, aspek mahluk sosial, aspek pribadi dan juga aspek kehidupan ketuhanannya. Pengembangan seluruh aspek manusia harus berlandaskan nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila sebagai suatu sistem. Contoh Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam pendidikan adalah dalam rangka mengolah kekayaan alam yang disediakakn Tuhan Yang maha Esa (sila ke-1), tujuan esensialnya adalah untuk kesejahteraan umat manusia, pengembangan iptek haruslah hasil budaya manusia yang beradab dan bermoral (sila ke-2), pengembangan iptek sejak dini diarahkan dapat mengembangkan rasa nasionalisme (sila ke-3), siswa sebagai ilmuwan perlu diberikan kebebasan mengembangkan iptek sekaligus menghargai kebebasan orang lan (silake-4), pengembangan iptek harus menjaga keseimbangan kehidupan dirinya sendiri, dengan orang lain, dirinya dengan Tuhannya, dirinya dengan masyarakat, dan alam sekitar (sila ke-5).
Aplikasi filsafat pancasila dalam lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan islam sangat dipelukan, karena aplikasi falsafah Pancasila yang terjabarkan dalam sila-sila Pancasila secara tepat dan integratif di dalam dunia pendidikan dapat mengembangkan kompetensi manusia secara utuh berlandaskan nilai-nilai yang berasal dari akar budaya bangsa Indonesia sendiri.














BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Aliran filsafat Iluminasionistik adalah aliran yang mengikuti gagasan dan karya-karya Plato sedangkan aliran filsafat Peripatetik adalah aliran yang mengikuti gagasan dan karya-karya Aristoteles. Sehingga penganut aliran filsafat Iluminasionistik bisa disebut sebagai pengikut plato. Adapun penganut aliran filsafat Peripatetik bisa disebut sebagai pengikut Aristoteles.
Filsafat Pancasila adalah refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa, dengan tujuan untuk mendapatkan pokok-pokok pengertiannya yang mendasar dan menyeluruh. Dari filsafat pancasila akan didapatkan nilai-nilai yang bisa digunakan dalam pengembangan pendidikan di lembaga pendidikan khususnya lembaga pendidikan islam. Jadi, aplikasi falsafah Pancasila yang terjabarkan dalam sila-sila Pancasila secara tepat dan integratif di dalam dunia pendidikan dapat mengembangkan kompetensi manusia secara utuh berlandaskan nilai-nilai yang berasal dari akar budaya bangsa Indonesia sendiri.


SUMBER


Tidak ada komentar:

Posting Komentar