Minggu, 28 Februari 2016

Drama Si Muka Dua

 DRAMA SI MUKA DUA

Kali ini aku akan bercerita mengenai “muka dua”. Di depan sang majikan ia seperti orang terbaik yang pernah ada, orang yang selalu ingin memperbaiki diri. Akan tetapi di belakang sang majikan ? who know’s, ternyata ia adalah orang terburuk yang pernah ada. Aku benci orang seperti itu, amat sangat benci. Ada beberapa orang yang seprti itu di sini dan sialnya akulah yang menjadi penonton akan semua drama itu. Aku hanya diam mengamati dan menebak-nebak apa akhir dari drama itu. Sejauh yang aku tonton, sang majikan masih belum tahu bahkan terkesan sangat percaya dengan si muka dua. Sebenarnya aku bosan, namun sayang aku diharuskan menonton drama itu. Karena ini bukanlah sekedar drama yang bisa diskip ketika sang penonton bosan. Ini adalah drama kehidupan di depan mata, yang apabila aku tak ingin menontonnya maka aku harus menutup mata. Padahal aku tak bisa apa-apa ketika mata tertutup, sungguh sangat disayangkan.

Sebagai penonton, aku hanya bisa menonton dan berkomentar tapi tak bisa ikut serta atau ambil peran dan drama itu. Tapi aku punya drama sendiri dimana akulah sang tokoh utama. Aku ingin dramaku bersih dari si muka dua, aku tak ingin dia ambil peran dalam dramaku. Tapi sayang, sang sutradara ingin ia ambil bagian di dalam dramaku. Membuat aku sang tokoh utama menjadi antagonis yang membenci si muka dua. Semua terlihat seakan-akan si muka dualah sang protaginis, padahal aku tau semua. Ia bukanlah protagonis, ia hanya muka dua yang menyamar menjadi protagonis. Dengan hadirnya protagonis menyebabkan dramaku dan drama sang majikan dan si muka dua menjadi terhubung satu sama lain. Pada akhirnya aku harus bangkit dari bangku penonton di drama sang majikan dan si muka dua. Aku dipaksa untuk ambil bagian, padahal bagianku dalam drama itu hanyalah bumbu yang tidak bermutu.
Entahlah, sampai kapan drama itu akan berakhir. Akankah seperti drama Korea yang hanya berkisar 16-25 episode atau seperti layaknya drama Indonesia yang berjumlah hingga ratusan bahkan hingga ribuan episode. Hanya sang sutradaralah yang tahu semua itu. Dia yang mengaturnya, Dia pula yang tahu jalan ceritanya. Aku hanyalah pemain utama yang lengser menjadi pemain figuran, tak berguna tapi cukup digunakan sebagai penyedap. 
Aku bertekad untuk membuat dramaku sendiri. Drama yang akan berakhir bahagia, drama yang tidak seperti drama Indonesia tetapi drama Korea. Tidak terlalu panjang tetapi tidak pula terlalu pendek. Aku akan mengajukan naskah dramaku kepada sang sutradara. Mengajukan diriku sendiri untuk kembali menjadi tokoh utama, bukan hanya figuran sang penyedap rasa. Akankah di acc oleh sang sutradara ? Jika pun tidak, tanpa menyerah aku akan terus mengajukannya. Aku tahu naskah itu tak mungkin dibuang oleh sang sutradara. Dia pasti menyimpannya, terus meyimpannya hingga nanti tiba waktunya untuk membuatnya menjadi sebuah drama kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar