DRAMA SI MUKA DUA
Kali
ini aku akan bercerita mengenai “muka dua”. Di depan sang majikan ia seperti
orang terbaik yang pernah ada, orang yang selalu ingin memperbaiki diri. Akan
tetapi di belakang sang majikan ? who know’s, ternyata ia adalah orang terburuk
yang pernah ada. Aku benci orang seperti itu, amat sangat benci. Ada beberapa
orang yang seprti itu di sini dan sialnya akulah yang menjadi penonton akan
semua drama itu. Aku hanya diam mengamati dan menebak-nebak apa akhir dari drama
itu. Sejauh yang aku tonton, sang majikan masih belum tahu bahkan terkesan
sangat percaya dengan si muka dua. Sebenarnya aku bosan, namun sayang aku diharuskan menonton drama itu. Karena
ini bukanlah sekedar drama yang bisa diskip ketika sang penonton bosan. Ini
adalah drama kehidupan di depan mata, yang apabila aku tak ingin menontonnya
maka aku harus menutup mata. Padahal aku tak bisa apa-apa ketika mata tertutup,
sungguh sangat disayangkan.
Sebagai penonton, aku hanya bisa menonton dan
berkomentar tapi tak bisa ikut serta atau ambil peran dan drama itu. Tapi aku
punya drama sendiri dimana akulah sang tokoh utama. Aku ingin dramaku bersih
dari si muka dua, aku tak ingin dia ambil peran dalam dramaku. Tapi sayang,
sang sutradara ingin ia ambil bagian di dalam dramaku. Membuat aku sang tokoh
utama menjadi antagonis yang membenci si muka dua. Semua terlihat seakan-akan
si muka dualah sang protaginis, padahal aku tau semua. Ia bukanlah protagonis,
ia hanya muka dua yang menyamar menjadi protagonis. Dengan hadirnya protagonis
menyebabkan dramaku dan drama sang majikan dan si muka dua menjadi terhubung
satu sama lain. Pada akhirnya aku harus bangkit dari bangku penonton di drama
sang majikan dan si muka dua. Aku dipaksa untuk ambil bagian, padahal bagianku
dalam drama itu hanyalah bumbu yang tidak bermutu.
Entahlah, sampai kapan drama itu akan berakhir.
Akankah seperti drama Korea yang hanya berkisar 16-25 episode atau seperti
layaknya drama Indonesia yang berjumlah hingga ratusan bahkan hingga ribuan
episode. Hanya sang sutradaralah yang tahu semua itu. Dia yang mengaturnya, Dia
pula yang tahu jalan ceritanya. Aku hanyalah pemain utama yang lengser menjadi
pemain figuran, tak berguna tapi cukup digunakan sebagai penyedap.
Aku bertekad untuk membuat dramaku sendiri. Drama yang
akan berakhir bahagia, drama yang tidak seperti drama Indonesia tetapi drama
Korea. Tidak terlalu panjang tetapi tidak pula terlalu pendek. Aku akan
mengajukan naskah dramaku kepada sang sutradara. Mengajukan diriku sendiri
untuk kembali menjadi tokoh utama, bukan hanya figuran sang penyedap rasa.
Akankah di acc oleh sang sutradara ? Jika pun tidak, tanpa menyerah aku akan
terus mengajukannya. Aku tahu naskah itu tak mungkin dibuang oleh sang
sutradara. Dia pasti menyimpannya, terus meyimpannya hingga nanti tiba waktunya
untuk membuatnya menjadi sebuah drama kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar