Selasa, 21 April 2015

Manajemen Pendidikan Islam



Manajemen Pendidikan Islam

1.    Manajemen Pendidikan Islam menurut Ramayulis dan Hasan Langgulung
·      Manajemen Pendidikan Islam menurut Ramayulis
Menurut Ramayulis Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, mengimani bertakwa berakhlak mulia, mengamalkan ajaran agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur’an dan Al-Hadis melalui kegiatan bimbingan pengajaran latihan serta penggunaan pengalaman.
Ramayulis menyatakan bahwa pengertian manajemen adalah al-tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat dalam Al Qur’an seperti firman Allah SWT :
Artinya : Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu (Al Sajdah : 05).
Dengan demikian maka yang disebut dengan manajemen pendidikan Islam sebagaimana dinyatakan Ramayulis adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang dimiliki (umat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya) baik perangkat keras maupun lunak. Pemanfaatan tersebut dilakukan melalui kerjasama dengan orang lain secara efektif, efisien, dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di akhirat.

 
·           Manajemen Pendidikan Islam menurut Hasan Langgulung
Hasan Langgulung mengatakan bahwa dalam bahasa Arab terdapat beberapa istilah yang mengandung makna pendidikan, yaitu ta’lim, tarbiyyah dan ta’dib. Hasan Langgulung lebih cenderung menggunakan kata ta’dib untuk menggambarkan muatan pendidikan. Beliau  memberikan penjelasan mengenai makna pendidikan yang tercermin dalam kata ta’dib yaitu,. Pertama, pemindahan nilai-nilai, budaya, pengetahuan dari seseorang kepada orang lain, atau dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Kedua, pendidikan adalah pelatihan. Ketiga, pendidikan adalah penanaman nilai.
Dari tiga makna pendidikan yang tercermin dari kata ta’dib seperti disebutkan Hasan Langgulung di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan Islam yang dimaksud adalah proses yang ditujukan agar seseorang (anak didik) mengetahui ajaran Islam, menghayati nilai-nilainya dan menjalankan dalam kehidupan sehari-hari, dengan sumber utama al-Qur’an dan Sunnah.
Manajemen pendidikan Islam memiliki banyak  kesamaan dengan menajemen pendidikan secara umum. Hanya saja manajemen pendidikan Islam lebih fokus dalam teori Islam serta mengandung berbagai prinsip umum. Jadi, pengertian manajemen pendidikan Islam merupakan gabungan dari pengertian manajemen dan pendidikan Islam.
Berdasarkan uraian diatas, dapat diketahui bahwa pendapat Ramayulis dan Hasan Langgulung mengenai manajemen pendidikan Islam tidaklah berbeda. Keduanya sama-sama berpendapat bahwa manajemen pendidikan Islam bertujuan untuk mencapai kesejahteraan di dunia dan akhirat serta terbentuknya akhlak mulia pada peserta didik. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan yang berarti diantara pendapat keduanya.
Menurut pendapat saya, pendapat dua ahli tersebut suadah sangat memenuhi apa yang dibutuhkan dalam manajemen pendidikan Islam. Dimana pengkajiannya, bukan hanya dari kurikulum, apalagi hanya metode mengajar dan melepaskan masalah ideologi Islam.  Jadi, manajemen pendidikan Islam, tidak hanya me-manage apa yang akan dilaksanakan peserta didik di dalam proses pembelajaran yang bertujuan memebentuk akhlak mulia. Akan tetapi juga me-manage kebutuhan untuk kehidupan akhirat mereka.
Sehingga, bisa dikatakan bahwa manajemen pendidikan Islam ini merupakan manajemen ideal yang dapat digunakan untuk mengelola kelas. Mengapa dikatakan demikian ? Karena manajemen pendidikan Islam tidak hanya memasukkan nilai-nilai kebaikan perilaku, tetapi juga nilai-nilai keagamaan yang mengantarkan kepada kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat.
2.    Prinsip manajemen pendidikan Islam menurut para ahli :
Hasan Langgulung berpendapat bahwa prinsip-prinsip manajemen lembaga pendidikan Islam yaitu :
·      Iman dan Akhlak
·      Keadilan dan Persamaan
·      Musyawarah
·      Pembagian Kerja dan Tugas
·      Berpegang Pada Fungsi Manajemen
·      Pergaulan dan Keikhlasan
Sedangkan menurut Ramayulis, prinsip-prinsip manajemen lembaga pendidikan Islam yaitu :
·      Ikhlas
·      Jujur
·      Amanah
·      Adil
·      Tanggung Jawab
·      Dinamis
·      Praktis
·      Fleksibel
Pada dasarnya pendapat Hasan Langgulung dan Ramayulis tentang prinsip-prinsip manajemen pendidikan Islam tidak jauh berbeda. Keduanya sama-sama memasukkan perkembangan akhlak dalam prinsip manajemen pendidikan Islam. Perkembangan akhlak tersebut meliputi ikhlas, adil, jujur, tanggung jawab, amanah, dan lain-lain.
Akan tetapi ada pula sedikit perbedaan diantara pendapat keduanya. Perbedan ini terlihat dalam pendapat Hasan Langgulung yang memasukkan Iman sebagai salah satu prinsip manajemen pendidikan Islam. Sehingga, manajemen pendidikan Islam tidak hanya menekankan pada akhlak tetapi juga ke-Imanan. Sedangkan Ramayulis tidak berpendapat demikian. Beliau hanya menyebutkan berbagai perkembangan akhlak dalam prinsip manajemen pendidikan Islam tanpa memasukkan adanya ke-Imanan. Sehingga, dapat diketahui bahwa Ramayulis hanya menekankan pada akhlak bukan pada ke-Imanan.
Menurut saya, pendapat Hasan Langgulung tentang prinsip-prinsip manajemen pendidikan Islam sudah sangat lengkap dan sesuai dengan pendidikan Islam. Mengapa saya berpendapat demikian ? Karena Hasan Langgulung tidak hanya memasukkan akhlak ke dalam prinsip manajemen pendidikan Islam, tetapi juga Iman termasuk di dalamnya. Seperti yang kita ketahui bahwa, pendidikan Islam tidak hanya bertujuan untuk mengubah akhlak peseta didik, tetapi juga menguatkan ke-imanan mereka. Hal ini, bisa diwujudkan dalam manajemen pendidikan Islam yang mengacu pada akhlak dan juga iman.
Pendapat kedua yakni pendapat Ramayulis. Menurut saya, pendapat Ramayulis ini kurang lengkap, karena dalam pendidikan Islam perkembangan akhlak saja tidak cukup akan tetapi juga termasuk iman di dalamnya. Bisa dibayangkan jika peserta didik hanya memiliki akhlak yang baik tetapi memiliki iman yang lemah. Tentu saja akan terjadi ketimpangan antara perilaku dan hati nurani. Misalkan saja, seorang anak yang memiliki sifat jujur, amanah, serta akhlak-akhlak baik lainnya melakukan bunuh diri karena ia tidak lulus Ujian Nasional. Hal ini tentu disebabkan karena kurangnya iman di dalam hati anak tersebut.

Sumber
Fakhruddin, Agus, “Prinsip-Prinsip Manajemen Pendidikan Islam Dalam Konteks Sekolah”, Jurnal Pendidikan Agama Islam, Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Sosial UPI, 2011.
Hasanudin, “Konsep Manajemen Pendidikan Agama Islam Dalam Perspektif Al-Qur’an Surat Al-‘Ashr”, Tesis, Program Pasca Sarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, 2012.
Karwadi, “Tujuan Pendidikan Islam Dalam Pemikiran Hasan Langgulung”, Jurnal Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiya UIN Sunan Kalijaga, 2009.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar